Selasa, 17 April 2012

KUALIFIKASI PENELITI, METODE ILMIAH DAN DESAIN ATAU METODE PENELITIAN


KUALIFIKASI PENELITI, METODE ILMIAH DAN DESAIN ATAU METODE PENELITIAN

1. Kualifikasi Peneliti
            Penelitian yang efektif tidak dapat terjadi seenaknya saja, tetapi ia harus didukung dengan faktor-faktor penunjang serta sarana dan prasaran yang cukup. Disamping faktor peneliti sendiri, ada faktor lingkungan yang turut mempengaruhi. Contoh nyatanya ya ketika perang dunia kedua banyak peneliti yang tidak bisa meneruskan riset mereka karena lingkungannya jelas tidak memungkinkan untuk itu, bahkan untuk keselamatan mereka sendiri.
            Kualifikasi peneliti harus didasarkan pada intelegensia, kekuatan bekerja serta sifat jujur dan rajin. Menurut Whitney(1960) ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh peneliti, yaitu :
·         Daya nalar, seorang peneliti harus mempunyai daya nalar yang tinggi yaitu dengan adanya kemampuan memberi alasan dalam memecahkan masalah, baik secara induktif maupun secara deduktif.
·         Orisinalitas, peneliti harus mempunyai daya hayal ilmiah dan harus kreatif. Peneliti harus brilian, mempunyai inisiatif yang berencana serta harus subur dengan ide-ide yang rasional dan menghindari plagiat.
·         Daya ingat, seorang peneliti harus memiliki daya ingat yang kuat, selalu ekstensif dan logis. Dapat dengan sigap melayani serta menguasai fakta-fakta.
·         Kewaspadaan, seorang peneliti harus secara cepat dapat melakukan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada suatu variabel atau atas suatu fenomena. Ia harus sigap dan mempunyai intaian yang tajam, serta responsive terhadap perubahan atau kelainan.
·         Akurat, seorang peneliti harus mempunyai tingkat pengamatan serta tingkat perhitungan yang akurat, tajam, serta beraturan.
·         Konsentrasi, seorang peneliti harus mempunyai kekuatan konsentrasi yang tinggi, kemauan yang keras, serta tidak cepat muak.
·         Dapat bekerja sama, peneliti harus mempunyai sifat yang kooperatif, dapat bekerja sama dengan siapapun. Harus mempunyai keinginan untuk berteman secara intelektual, dan dapat bekerja secara team-work.
·         Kesehatan, seorang peneliti harus sehat, baik jiwa maupun fisik. Peneliti harus stabil, sabar, dan penuh vitalitas.
·         Semangat, kesehatan si peneliti harus ditunjang pula dengan semangat untuk meneliti.
·         Pandangan Moral, seorang peneliti harus mempunyai kejujuran intelektual, mempunyai moral yang tinggi, beriman dan dapat dipercaya. Peneliti harus mempunyai kreativitas serta hasrat yang tinggi.

2. Metode Ilmiah
            Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
            Metode ilmiah merupakan prosedur atau cara-cara tertentu yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang disebut dengan ilmu/pengetahuan ilmiah (Senn,1971:4-6). Epistemoligi (filsafat pengetahuan) merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan dalam kajian filsafat. Dengan demikian, metode ilmiah merupakan epistemologi ilmu yang mengkaji sumber-sumber untuk memperoleh kajian yang benar.  
            Penelitian ilmiah berfokus pada metode yang kokoh untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan yang valid. Penelitian ilmiah bersifat lebih obyektif karena tidak berdasarkan pada perasaan, pengalaman dan intuisi peneliti semata yang bersifat subyektif. Penelitian ilmiah melibatkan  theory construction dan  theory verification. Kontruksi teori merupakan suatu proses untuk membentuk struktur dan kerangka teori yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu hipotesis yang relevan dengan struktur teorinya. Selanjutnya dengan menggunakan fakta, maka hipotesis tersebut diuji secara empiris. Meskipun tidak ada konsensus tentang urutan dalam metode ilmiah, metode ilmiah umumnya memiliki beberapa karakteristik umum sebagai berikut (Davis & Cosenza, 1993: 37; Sekaran, 1992, 2003): 
·         Kritis dan analitis: mendorong suatu kepastian dan proses penelitian untuk mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusinya.
·         Logis: merujuk pada metode dari argumentasi ilmiah. Kesimpulan rasional diturunkan dari bukti yang ada.
·    Testabiity: penelitian ilmiah harus dapat menguji hipotesis dengan pengujian statistik yang menggunakan data yang dikumpulkan.
·         Obyektif: hasil yang diperoleh ilmuwan yang lain akan sama apabila studi yang sama dilakukan pada kondisi yang sama. Hasil penelitian dikatakan ilmiah apabila dapat dibuktikan kebenarannya.
·         Konseptual dan Teoretis: ilmu pengetahuan mengandung arti pengembangan suatu struktur konsep dan teoretis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian.
·         Empiris: metode ini pada prinsipnya berstandar pada realitas.
·         Sistematis: mengandung arti suatu prosedur yang cermat. Suatu penelitian dikatakan penelitian ilmiah yang baik jika memenuhi kriteria berikut (Sekaran, 1992, 2003); Indriantoro & Supomo, 1999: 14-15).
·         Menyatakan tujuan secara jelas.
·         Rigor (kokoh): penelitian ilmiah menunjukkan proses penelitian yang dilakukan secara hati-hati (prudent) dengan keakurasian yang tinggi.  Basis teori dan rancangan penelitian yang baik akan menambah kekokohan dari penelitian ilmiah. 
·         Menggunakan landasan teoretis dan metode pengujian data yang relevan.
·         Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji dari telaah teoretis atau berdasarkan pengungkapan data.
·         Mempunyai kemampuan untuk diuji ulang (replikasi).
·         Memilih data dengan presisi sehingga hasilnya dapat dipercaya. Tidak ada penelitian yang sempurna dan ketepatannya tergantung pada keyakinan peneliti yang dapat diterima umum. Kesalahan pengukuran data dapat menyebabkan ketepatan penelitian menurun. Desain penelitian harus dilakukan dengan baik sehingga hasil penelitian dapat dekat dengan kenyataannya (precision) dengan tingkat probabilitas keyakinan (confidence) yang tinggi.
·         Menarik kesimpulan dilakukan secara obyektif. Hasil penelitian ilmiah akan memberikan hasil dan konklusi yang obyektif jika tidak dipengaruhi oleh faktor subyektif peneliti.
·         Melaporkan hasilnya secara parsimony (simpel), yaitu penelitian ilmiah mempunyai kemudahan di dalam menjelaskan hasil penelitiannya.
·         Temuan penelitian dapat digeneralisasi. Hasil penelitian ilmiah mampu untuk diuji ulang dengan hasil yang konsisten dengan waktu, obyek, dan situasi yang berbeda.

         Metode ilmiah merupakan suatu prosedur (urutan langkah) yang harus dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah (science project). Secara umum metode ilmiah meliputi langkah-langkah berikut:
1. Observasi Awal
                        Setelah topik yang akan diteliti dalam proyek ilmiah ditentukan, langkah pertama untuk melakukan proyek ilmiah adalah melakukan observasi awal untuk mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut melalui pengalaman, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang sesuai.
·         Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview, dll.
·         Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll.
·         Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.
2. Mengidentifikasi Masalah
                        Permasalahan merupakan pertanyaan ilmiah yang harus diselesaikan. Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan, bukan jawaban ya atau tidak. Sebagai contoh: Bagaimana cara menyimpan energi surya di rumah?
·         Batasi permasalahan seperlunya agar tidak terlalu luas.
·         Pilih permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti.
·         Pilih permasalahan yang dapat diselesaikan secara eksperimen.
3. Merumuskan atau Menyatakan Hipotesis
                        Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Hipotesis dirumuskan atau dinyatakan sebelum penelitian yang seksama atas topik proyek ilmiah dilakukan, karenanya kebenaran hipotesis ini perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang seksama. Yang perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan salah.
·         Gunakan pengalaman atau pengamatan lalu sebagai dasar hipotesis
·         Rumuskan hipotesis sebelum memulai proyek eksperimen
4. Melakukan Eksperimen
                        Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen: variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.
                        Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.
·         Usahakan hanya satu variabel bebas selama eksperimen.
·         Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang diasumsikan konstan.
·         Lakukan eksperimen berulang kali untuk memvariasi hasil.
·         Catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.
5. Menyimpulkan Hasil Eksperimen
                        Kesimpulan proyek merupakan ringkasan hasil proyek eksperimen dan pernyataan bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Alasan-alasan untuk hasil eksperimen yang bertentangan dengan hipotesis termasuk di dalamnya. Jika dapat dilakukan, kesimpulan dapat diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.
·         Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis:
·         Jangan ubah hipotesis
·         jangan abaikan hasil eksperimen
·         Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai
·         Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian
·         Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang eksperimen.

3. Desain/ Metode Penelitian
        
Desain Penelitian
         Desain penelitian merupakan perpaduan antara kepustakaan dan revisi, dimana suatu keputusan yang diambil selalu diiringi dengan pengaruh adanya keseimbangan dalam proses. Dari yang kita ketahui tiap keputusan harus disandarkan kepada metode ilmiah, tetapi menterjemahkan keputusan tersebut dalam suatau prosedur operasional yang khas memerlukan seni dan ketrampilan. Desain yang ideal sekurang-kurnagnya harus mempunyai cirri-ciri berikut ini (Suchman, 1967) :
1.      Dibentuk berdasarkan metode ilmiah
2.      Dapat dilaksanakan dengan data dan teknik yang ada
3.      Cocok untuk tujuan penelitian, dalam artian harus menjamin validitas penemuan untuk memecahkan masalah
4.      Harus ada orginalitas dalam membuat desain yang inventif sifatnya.
5.      Ada keindahan dalam desain, dalam artian bahwa sesain tersebut seimbang.
6.      Desain harus cocok dengan biaya penelitian, dan dengan kemampuan sumber manusia.
        Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Adapun macam-macam desain penelitian, yaitu:
1. Desain dalam merencanakan penelitian
        Desain dalam perencanaan penelitian bertujuan untuk melaksanakan penelitian, sehingga dapat diperoleh suatu logika, baik dalam pengujian hipotesa maupun dalam membuat kesimpulan. Desain rencana penelitian yang baik akan dapat menterjemahkan model-model ilmiah ke dalam operasional penelitian secara praktis. Keputusan yang diambil harus merupakan kompromi antara penggunaan metode ilimiah yang sangat sukar dan kondisi sumber yang tersedia.         
2. Desain pelaksanaan penelitian
        Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variable, memilih posedur dan teknik sampling, alat-alat untuk mengumpulkan data kemudian membuat coding, editing dan memproses data yang dikumpulkan,termasuk juga proses analisa data serta membuat laporan. Dalam pelaksanaan penelitian termasuk juga proses analisa data serta membuat pelaporan. Oleh Suchman (1967) desain dalam pelasksanaan penelitian dibagi atas 3 yaitu :
·         Desain sampel
             Desain sampel yang akan digunakan dalam operasional penelitian amat tergantung dari pandangan efisiensi, yaitu :
a. Mendefinisikan populasi
b. Menentukan besarnya sampel
c. Menentukan sampel yang representatif
·         Desain alat (Instrumen)
             Yang dimaksud dengan alat disini adalah alat untuk mengumpulkan data. Desain terhadap alat untuk mengumpulkan data sangat menentukan dalam pengujian hipotesa. Alat yang digunakan dapat sangat berstruktur (check list dari kuesioner), kurang berstruktur (interview guide), ataupun suatu outline biasa di dalam mencatat pengamatan langsung.
·         Desain analisa
             Dalam desain analisa, maka diperlukan alat-alat yang digunakan untuk membantu analisa. Penggunaan statistik yang tepat yang sesuai dengan keperluan analisa harus dipilih sebaik-baiknya.

Jenis-jenis Desain Penelitian
         Mc Grath (1970) membagi desain penelitian atas lima, yaitu percobaan dengan kontrol, studi, survey, investigasi, dan penelitian tindakan. Sedangkan Barnes (1964) membagi desain penelitian atas :
1)      Studi “Sebelum-sesudah” dengan kelompok kontrol
2)      Studi “Sesudah Saja” dengan kelompok kontrol
3)      Studi “Sebelum-sesudah” dengan satu kelompok
4)      Studi “Sesudah Saja” tanpa kontrol dan,
5)      Percobaan ex post facto.
Sedangkan Selletiz, et al. (1964) membagi desain penelitian atas tiga yaitu :
1.      Desain untuk studi eksploratif dan formulatif
2.      Desain untuk studi deskreptif
3.      Desain untuk studi menguji hipotesa kausal
Shah (1972) mencoba membagi desain penelitian atas 6 jenis yaitu :
a.      Desain untuk penelitian yang ada kontrol
b.      Desain untuk studi lapangan desai untuk studi dengan dimensi waktu
c.      Desain untuk studi evaluatif nonevaluatif
d.      Desain dengan menggunakan data primer atau sumber data sekunder

·             Desain Penelitian yang ada Kontrol
         Desain penelitian ini adalah desain percobaan atau desain bukan percobaan. Kedua desain tersebut mempuyai kontrol. Dalam desain percobaan, beberapa variabel dikontrol dan beberapa merupakan kontrol.

·             Desain Penelitian Deskriptif-Analisis
         Penelitian yang noneksperimental dapat dibagi atas peneltian Deskreptif dan Penelitian analitis. Penelitian Deskreptif  adalah studi untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam desain studi deskreptif yang berkehendak hanya untuk mengenal fenomena-fenomena untuk keperluan studi selanjutnya. Dalam studi deskriptif juga termasuk :
a.       Studi untuk melukiskan secara akurat sifat-sifat dari beberapa fenomena, kelompok atau individu.
b.      Studi untuk menentukan frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk memininilaisasi bias dan memaksimumkan realibilitas
         Desain studi analisa lebih banyak dibatasi oleh keperluan-keperluan pengukuran, dan menghendaki suatu desain yang menggunakan model seperti pada desain percobaan. Sesuai dengan metode penelitian, maka desain deskriptif dan analisa dapat dibagi  pula atas tiga, yaitu : desain studi historis, desain studi kasus dan desain surve. Seperti sudah dijelaskan, metode penelitian sejarah mencakup empat aspek yaitu ; historis, menguji secara kritis asal dan keaslian sumber sejarah serta validitas dari isi sumber tersebut memberikan interpretasi dan pengelompokan dari fakta-fakta serta hubungannya dan formulasi serta melukisakan hasil penemuan (Gee, 1950)

·         Desain Penelitian Lapangan atau Bukan
         Desain percobaan dapat dilihat dari sudut apakah penelitian tersebut merupakan setting dengan menggunakan lapangan atau tidak. Desain penelitian sejarah, misalnya kurang menggunakan penelitian lapangan, karena banyak kerja penelitian dilakukan untuk mendapatkan dokumen-dokumen di museum, perpustakaan dan sebagainya.

·         Desain Penelitian dalam hubungan dengan waktu
         Dalam Hubungannya dengan waktu serta pengulangan penelitian, maka penelitian percobaan dan penelitian dengan menggunakan metode sejarah memakai desain di mana penyelidikan dilakukan dalam suatu interval waktu tertentu.

·             Desain dengan Tujuan Evaluatif atau Bukan
         Suchman (1967) memberi definisi penelitian evaluasi sebagai penentuan (apakah berdasarkan opini, catatan, data subjek atau obyek) hasil (apakah baik atau tidak naik, sementara atau permanen, segera ataupun ditunda) yang diperoleh dengan beberapa kegiatan (suatu program, sebagian  dari program, dan sebagainya) yang dibuat untuk memperoleh suatu tujuan tentang nilai atau permormant.desain penelitian evaluatif harus selalu mengenai perubahan yang terjadi menurut waktu.

·             Desain Penelitian dengan Data Primer/Sekunder
         Sebagaian dari tujuan desain penelitian adalah untuk memperoleh data yang relevan, dapat dipercaya, dan valid.

         Desain memberi pegangan yang lebih jelas kepada peneliti dalam melakukan penelitiannya, dalam desain antara lain harus ada :
a)      Populasi sasaran
b)      Metode sampling
c)      Besar sampling
d)     Prosedur pengumpulan data
e)      Cara-cara menganalisis data setelah terkumpul
f)       Perlu tidaknya statistik
g)      Cara mengambil penelitian

        Desain menentukan batas-batas penelitian yang bertalian dengan tujuan. Desain selalu berhubungan erat dengan tujuan. Dengan tujuan yang jelas dapat pula disusun suatu desain yang menentukan batas-batas penelitian yang tegas, sehingga perhatian dan usahanya ke arah tujuan yang nyata secara lebih efektif.
         Desain penelitian selain memberi gambaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan juga memberi gambaran tentang macam-macam kesulitan yang akan dihadapi yang mungkin juga telah dihadapi oleh para peneliti lain.
Bentuk-bentuk desain penelitian :
i.        Desain Survey :Suatu penelitian survey atau survey bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang orang yang jumlahnya besar, dengan cara mewawancarai sejumlah kecil dari populasi itu. Survey dapat digunakan dalam penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, maupuan eksperimental
ii.      Desain Case Study adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk msnusia di dalamnya.
iii.    Desain Eksperimen

Kesimpulan dari Desain Penelitian yaitu mempunyai kegunaan :
·         Memberi pegangan tentang cara pelaksanaan penelitian.
·         Menentukan batas-batas peneltitian.
·         Memberi gambaran tentang apa yang akan dilakukan serta kesulitan yang akan dihadapi.

Metode Penelitian
         Metode penelitian dikelompokan sesuai dengan tujuan pengelompokannya. Natsir (1988) mengelompokannya menjadi lima kelompok, yaitu:
a). Metode sejarah
         Penelitian dengan menggunakan metode sejarah merupakan penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan-perkembangan serta pengalaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dan sumber sejarah serta interupsi dari sumber-sumber keterangan tersebut.

b). Metode deskriptif
         Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran dan suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Adapun tujuan dari penelitian deskrpitif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematik faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan-hubungan antara fenomena yang diteliti.

c). Metode Eksperimental
         Eksperimental adalah suatu observasi dibawah kondisi buatan, dimana kondisi tersebut sengaja dibuat dan diatur oleh peneliti. Dengan demikian penelitian eksperimental ialah penelitian yang dilakukan dengan memanipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol.

d). Metode Grounded Research
         Grounded Research adalah suatu metode penelitian yang didasarkan kepada fakta dan menggunakan analisa perbandingan, bertujuan untuk mengadakan generasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori serta analisa data yang berjalan pada saat bersamaan.

e). Metode Penelitian Tindakan
         Metode penelitian tindakan ialah suatu penelitian yang berkembang bersama-sama antara peneliti dan pengambil keputusan tentang variabel-variabel yang dimanipulasi dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan. Peneliti dan pengambil keputusan bersama-sama menentukan masalah, membuat desain serta melakukan program-programnya.

Metode Penelitian akan memberi gambaran atas
1.      Bagaimana suatu Riset akan dilaksanakan; atau Bagaimana melanjutkan suatu riset yang pernah ada.
2.      Pertanyaan dan tujuan/objektif
3.      Teknik atau instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data
4.      Jenis data yang akan dikumpulkan
5.      Bagaimana cara yang akan digunakan peneliti untuk menganalisa data
6.      Kesimpulan yang dapat diperoleh

            Penelitian merupakan suatu siklus. Setiap tahapan akan diikuti oleh tahapan lain secara terus menerus.
Tahapan-tahapan penelitian itu adalah:
1. Identifikasi masalah
            Penelitian dimulai dari pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh seorang peneliti. Untuk ini diperlukan adanya motivasi yang berupa rasa ingin tahu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk melihat dengan jelas tujuan dan sasaran penelitian, perlu diadakan identifikasi masalah dan lingkungan masalah itu. Masalah penelitian selanjutnya dipilih dengan kriteria, antara lain apakah penelitian itu dapat memecahkan permasalahan, apakah penelitian itu dapat diteliti dari taraf kemajuan pengetahuan, waktu, biaya maupun kemampuan peneliti sendiri, dan lain-lain. Permasalahan yang besar biasanya dibagi menjadi beberapa sub-masalah. Substansi permsalahan diidentifisikasikan dengan jelas dan konkrit. Pengertian-pengertian yang terkandung didalamnya dirumuskan secara operasional. Sifat konkrit dan jelas ini, memungkinkan pertanyaan-pertanyaan yang diteliti dapat dijawab secara eksplisit, yaitu apa, siapa, mengapa, bagaimana, bilamana, dan apa tujuan penelitian. Dengan identifikasi yang jelas peneliti akan mengetahui variabel yang akan diukur dan apakah ada alat-alat untuk mengukur variabel tersebut.
2. Perumusan masalah
            Setelah menetapkan berbagai aspek masalah yang dihadapi, peneliti mulai menyusun informasi mengenai masalah yang mau dijawab atau memadukan pengetahuannya menjadi suatu perumusan. Untuk itu, diperlukan perumusan tujuan penelitian yang jelas, yang mencakup pernyataan tentang mengapa penelitian dilakukan, sasaran penelitian, maupun pikiran penggunaan dan dampak hasil penelitian. Permasalahan yang masih samar-samar dan diragukan mulai dipertegas dalam bentuk perumusan yang fungsional. Verbalisasi gagasan-gagasan dapat dirumuskan agar orang lain dapat memahaminya. Pandangan-pandangan teori diuraikan secara jelas, sehingga mudah diteliti dan dapat dijadikan titik tolak penelitian. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan pembuatan model. Hipotesis merupakan salah satu bentuk konkrit dari perumusan masalah. Dengan adanya hipotesis, pelaksanaan penelitian diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Pada umumnya hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menguraikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan tak bebas gejala yang diteliti. Hipotesis mempunyai peranan memberikan arah dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan memandu ke arah penyelesaiannya secara lebih efisien. Hipotesis yang baik akan menghindarkan penelitian tanpa tujuan, dan pengumpulan data yang tidak relevan. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.
3. Penelusuran pustaka
            Penelitian dimulai dengan penelusuran pustaka yang berhubungan dengan subyek penelitian tersebut. Penelusuran pustaka merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk penelitian. Penelusuran pustaka dapat menghindarkan duplikasi pelaksanaan penelitian. Dengan penelusuran pustaka dapat diketahui penelitian yang pernah dilakukan dan dimana hal itu dilakukan.
4. Rancangan penelitian
            Rancangan penelitian mengatur sistematika yang akan dilaksanakan dalam penelitian. Memasuki langkah ini peneliti harus memahami berbagai metode dan teknik penelitian. Metode dan teknik penelitian disusun menjadi rancangan penelitian. Mutu keluaran penelitian ditentukan oleh ketepatan rancangan penelitian.
5. Pengumpulan data
            Data penelitian dikumpulkan sesuai dengan rancangan penelitian yang telah ditentukan. Data tersebut diperoleh dengan jalan pengamatan, percobaan atau pengukuran gejala yang diteliti. Data yang dikumpulkan merupakan pernyataan fakta mengenai obyek yang diteliti.
6. Pengolahan data
            Data yang dikumpulkan selanjutnya diklasifikasikan dan diorganisasikan secara sistematis serta diolah secara logis menurut rancangan penelitian yang telah ditetapkan. Pengolahan data diarahkan untuk memberi argumentasi atau penjelasan mengenai tesis yang diajukan dalam penelitian, berdasarkan data atau fakta yang diperoleh. Apabila ada hipotesis, pengolahan data diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Dari data yang sudah terolah kadangkala dapat dibentuk hipotesis baru. Apabila ini terjadi maka siklus penelitian dapat dimulai lagi untuk membuktikan hipotesis baru.
7. Penyimpulan hasil
            Setiap kesimpulan yang dibuat oleh peneliti semata-mata didasarkan pada data yang dikumpulkan dan diolah. Hasil penelitian tergantung pada kemampuan peneliti untuk menfasirkan secara logis data yang telah disusun secara sistematis menjadi ikatan pengertian sebab-akibat obyek penelitian. Setiap kesimpulan dapat diuji kembali validitasnya dengan jalan meneliti jenis dan sifat data dan model yang digunakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar